Sunrays

Blogger Template by ThemeLib.com

Tampilkan postingan dengan label aku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aku. Tampilkan semua postingan

HANABI (fireworks) #1

Published by Iga Indah under on 17.25

"What is the worth of this world I'm living in?
I start thinking its all meaningless
or maybe I’m just tired?

In exchange for something I got
I gave up a number of precious things
eventhough, the world isn't peaceful enough
that I can spare time to feel sad for each matters.

What kind of dreams should I draw?
What kind of hopes should I take with me as moving forward?
These seemingly impossible to answer questions
Get buried in my day to day life."

-(Hanabi (Code Blue OST) - Mr.Children )-


Ini adalah translate dari penggalan sebuah lagu yang sangat mewakili perasaanku saat-saat pertengahan puasa kemarin. Hari-hari dipenuhi tanda tanya besar (?). Galau akademis. Begitu teman-teman menyebutnya. Aku memang jarang menggunakan kosa kata ‘galau’ untuk diriku sendiri.
Berawal dari pemikiran tentang masa depan. Sebuah pertanyaan besar yang pernah kutulis sebelumnya, kini…eeemmm…  ok, memang belum ketemu jawabannya. Tapi biar waktu yang menjawab.

Ketika ditanya apa cita-cita, impian, rencana ke depan, fakultas, atau jurusan yang diinginkan, maka ketika itu teman-temanku biasanya langsung bisa menjawab, walaupun ada yang jawabnya agak malu-malu. Yang pasti mereka telah menemukan sesuatu yang disebut impian. Dengan pasti.

Anehnya, yang bisa kujawab adalah “Aku belum tahu”. Menyedihkan. Saat yang lain telah mulai melangkah menuju impian masing-masing. Berjuang sekuat tenaga, sampai keringat menetes deras, doa yang bertubi-tubi disampaikan kepadaNya, nafas terengah-engah, kaki terus berlari, tangan terus berusaha menggapai, tubuh berdarah-darah, mata tajamnya tertuju pada satu titik, semangat menggebu, mendaki tanpa lelah, demi menuju satu impian.
Dan di saat-saat itu,aku masih saja bertanya,
“Apa impian yang Allah inginkan untuk jadi impianku?”


This is.... my life

Published by Iga Indah under on 17.31
Sebuah pertanyaan besar yang akhir-akhir ini muncul di kepalaku.
Tadinya aku bertanya, “Akan jadi apa aku nanti?”
Tapi kemudian kuganti pertanyaanku menjadi, “Akan Kau jadikan apa aku nanti?”
Pertanyaan yang sering muncul saat masa-masa remaja labil. Ya, seperti sekarang ini.

I want to go back in that time,
I want to make a time machine and go back in that time.
-Kitou Aya, 1 litre of tears-

Kalimat yang mewakili. Aku kembali teringat akan masa-masa dimana aku belum punya tanggungan yang seperti ini. Kini ada banyak hal yang harus dan ingin kulakukan. Tidak mudah untuk memilih dan menentukan prioritasnya. Banyak gagasan dan pemikiran yang ingin kurealisasikan.
Jika bicara mengenai target kedepan dalam waktu dekat, tentu ada banyak. Namun, seperti sebelumnya, aku bahkan tak yakin akan bisa mencapainya. Akankah berakhir dengan ‘hanya sekedar target saja’? Tanpa ada sebuah saja prestasi keberhasilan. Rasanya bosan juga jika semuanya selalu seperti ini. Aku rindu masa-masa dimana semua berjalan sederhana, mudah, dan lancer-lancar saja. Tapi, itu hanya sekedar rindu, tak lebih. Aku lebih tertarik pada masa depan.

Kesulitan terbesar adalah keputusan.
-Ali bin Abi Thalib-

Setiap ingat kalimat ini, aku jadi berpikir,

17 tahunku ini,
Selama 17 tahunku ini,
Aku sudah melakukan apa?
Lalu…sekarang aku mau apa?
Allah mau aku berbuat apa?
Allah mau aku jadi apa?
Ayah, Ibu… kalian mau aku jadi apa?
Dan… aku mau jadi apa?
Bagaimana?
Lalu?
Apa?
Apa yang Allah mau?
Apa yang harus kulakukan?
Apa yang ingin kulakukan?
Bagaimana caranya?
Bisakah?
Yakinkah?
Aku tidak tahu.
Tidak tahu.

Ya Rabbi, hanya kepadamu aku memohon petunjuk. Aku bukanlah orang yang istimewa diantara hamba-hambaMu. Aku bukalah orang yang taat. Aku orang yang lemah dihadapanMu. Dosa-dosa yang kubuat tak terhitung. Hatiku tak sebaik yang mereka sangkakan padaku. Tak seindah harapanku. Kemampuanku tak seberapa. Semangatku untuk istiqomah tak sehebat hamba-hambaMu yang lain. Ikhtiarku tak sekeras mereka. Shalatku tak khusyuk. Imanku hanya dimulut. Jilbabku tak ubahnya pajangan. Ibadahku tak sebanyak mereka. Janjiku padaMu pun telah terlupa. Pengorbananku tak seberapa. Ikhlasku mungkin diselimuti riya’. Tinggi hati jadi sisi gelap dalam diriku. Iri hati jadi racun yang setiap hari terus bertambah tanpa disadari. Maksiat menjadi makanan sehari-hari yang menggerogoti tubuh. Semua itu membuatku terlihat seperti bentuk awal penciptaannya. Setetes air yang hina. Tak lebih.

Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata! (Q.S. Yaasiin : 77)

Dadaku bergemuruh. Sesak. Air mata tertahan. Rasa takut padaMu menyelimuti. Penyesalan pun menghampiri.
Manusia. Bagaimanapun aku tetap manusia. Ada sisi gelap dalam diriku. Tapi, akankah ini semua berlanjut? Sampai kapan?
Ini hidupku. Hidup yang Kau berikan padaku. Aku ingin menjaganya, menjadikannya berharga, berkualitas. Walaupun saat ini kenyataannya aku memang sedang menyia-nyiakannya. Adakah terbersit rasa syukur? Sedikit saja?
Ya, hanya dimulut. Secara teori saja. Tidakkah aku ingin berubah? Aku tahu ini masih belum terlambat, tapi bisakah? Aku bahkan tak yakin dengan diriku sendiri.
Menyedihkan. Jika terus seperti ini. Aku hanya akan berakhir menyedihkan.
Terus terangkap dalam lubang hitam.
Aku ingin keluar. Berdiri tegak, tak lagi goyah. Lalu berjalan,..ah, tidak…bukan…aku akan berlari mengejar ketertinggalan. Menggapai punggung-punggung itu. Senyum di wajah mereka adalah penyemangat.
Ya, inilah hidupku. Aku akan menjaganya dengan ijinMu.

 -Kamis, 7 Juli 2011, curhat seorang ukhti-

?

Published by Iga Indah under on 22.02
Ya Rabb, Kau ingin aku jadi apa?

The Other Side

Published by Iga Indah under on 00.35
Hemn…
Kalimat postinganku kali ini diawali dengan deheman. Sudah biasa memang. Kalau begini artinya aku tidak sedang ‘banyak memikirkan sesuatu’ tapi lebih ke ‘sedikit memikirkan banyak hal’. Artiya ada banyak hal yang aku memikirkannya cuma sedikit. Aku akan mecoba menuliskan kesimpulan atau mungkin opini dari apa yang kupikirkan, bukan menceritakan alur yang terjadi seharian ini.  Malas sekali kalau harus cerita masalah alur. Panjang mestinya.

Sejak pagi aku sebenere udah mikir apa yang mau tak lakuin. Tapi ya itulah. Cuma mikir doang. Bukan benar-benar berpikir. Bagiku itu artinya beda. Toh akhirnya cuma terjun ke arus. Tapi…eits…jangan kira aku mau ngikut arus dengan mudah. Begini, begini, aku punya pegangan, dan insya Allah dipegang.
Dari awal aku berusaha nahan emosi (emosi bukan berarti marah ya, emosi=perasaan meluap2). Masang tingkah dan mimik muka biasa saja, tidak ada yang istimewa. Tapi nek boleh jujur bagi anak ndeso kaya aku ini kalau soal begituan memang susah nahan kikuk. Nggak bisa natural. Tapi apa salahnya mencoba sesuatu yang lain dari biasanya.

Dimulai waktu makan di Jejamuran. Waktu masuk, pikiran-pikiran kurang gaweanku muncul lagi. Contohnya…sudahlah…. Nggak penting. Isinya cuma alur pemikiran aneh yang nyangkut begitu saja di otak.  Namanya juga kurang gawean. Yo wis, back to the topic.

Masuk, duduk, pesen menu, shalat, makan, ngobrol, keluar (wuh…hebat! Ra mbayar po?). Tenang, wis dibayarin kok. Sampai di parkiran, naaaaahhhhhh….. ini dia.

Apa? Apa? Apa?

Kasih tau nggak yaaaa…. >_< (Malaaaaahhh ngoooopoooo?????)


Aku ki sakjamen yo kaget. Tapi tetap berusaha biasa aja. Ini memang lika-liku dalam menjalin hubungan pertemanan. Harus bisa saling memahami karakter. Kalau kita kelihatan kaget, nggak suka, marah2, atau malah sedih pula, dihadapan mereka yang notabene melakukan ‘hal-hal yang tidak sewajarnya’ untuk ukuran kita (misal: ngrokok), malah akan jadi konflik yang merepotkan bukan? Terutama konflik batin yang sakjane menurutku membuang waktuku sendiri (afwan sekali, aku lagi rada cuek hari ini). Pol mentok aku sendiri cuma bisa bilang ‘tp dia saudara kita’ atau malah cuma bilang ‘aku nggak suka’. Lha terus? Adakah kelanjutan aksi nyata untuk merubah? Kalau mak jleb saat itu juga tentu kita akan dianggap orang sok. Bukankah kuncinya bukan kecewa lalu sedih tp lebih ke kesabaran untuk mengerti? Kita tentu tahu lingkungan seperti apa yang membentuk teman kita itu. Rubah pelahan. Beri contoh. Bukankah itu lebih efektif? Kalau masalah aksi nyata, jujur sekali sampai saat ini aku hanya bisa mengusahakan sebatas pada diriku sendiri dan orang-orang yang dekat denganku, missal keluarga dan teman dekat (sebatas yg akhwat). Inilah yang disebut keterbatasan. Entah itu dibuat oleh siapa.

Kita beralih tempat. Sebelumnya saya ingin sekali menekankan kalau aku iki anak rumahan. Jangankan main
ke rumah teman ikhwan, yang akhwat aja jarang. Hebat! Sudah jadi ABG kau sekarang! Maen, motor2an kesana kemari, hangout, makan di restoran, nanti malah masih ke movie box.

Bah…! Uang siapa itu? (afwan sekali, hari ini aku juga lagi ngrasa pengen ngatosi dan diatosi) Astaghfirullah… eling nduk, eling, eling…..!!!!

Aku jadi ingat tokoh Ipung dalam novel remaja karangan Prie GS, More Than Love. Hoho... keren.

Yoz…! Tapi yang jelas, pasti ada yang bisa dipetik bukan? Tidak bisa tidak. Maka sejak dari situ, aku
berpikir: ambil yang baik, buang yang buruk. Logika sederhana yang cocok dalam situasi begini.

Kelanjutannya?
Ya tetep lanjut sampai akhir. Aku maju saja, mundur sekarang tanggung, toh mungkin aku bakal kapok, dan nggak lagi, lagi. Semoga ya Allah. Sayang uang patungannya juga.

Masuk deh ke moviebox. Sebelumnya memang pernah sekali dua kali, jd tahu keadaan di dalam bakalan kaya apa. Filmnya horror lagi. Pasti ketakutan, kaget, jerit2. Hemn…harus diakui kalau aku ini memang nggak suka yang namanya sadisme. Jadi waktu nonton film, aku tutup mata dan telinganya waktu adegan matahin tangan, kaki, sama nyiram air keras ke wajah. Lho…? Kok bisa tahu? Katanya tutup mata dan telinga? Ya kan habis itu tanya ceritanya ke temen sebelah. Tapi nek adegan hantu keluar dari lemari atau nggantung diatas artisnya, atau kran air nyala sendiri,  atau artisnya masuk kamar sendiri trus dikagetin sama hantu yang wajahnya item berdarah2 rambutnya panjang awut2an, aku malah nggak takut. Lha itu cuma film kok. Tapi jujur aku nggak bisa menerapkan logika itu kalau adegannya sadisme, soalnya denger teriakan kesakitan itu sangat2 sulit dilupakan, bagiku.

Yang bisa dipetik :
-          Semua orang punya ketakutan yang beda2.
-          Bagi orang2 yang telah menyadari sepenuhnya kalau Allah itu dekat, maka dia tidak akan merasakan ketakutan semacan itu.
-          Yang namanya setan gentayangan, kutukan dari setan, setan bisa mbunuh manusia (atau malah bunuh2an), atau yang aneh2 itu tidak ada. Yang ada hanya kuasa Allah.
-          Moviebox = rawan ikhtilat. Harus saling menjaga!
-          Moviebox = rawan telat sholat. Hati-hati!
-          Moviebox = kedinginan. Makanya jangan duduk di pojokan bawah AC. Brrr….!!!
-          Moviebox = musholanya nyempil, ruangannya 2x1,5 meter. Barengan sama tempat buat masang sumber listrik pula. Bahkan karyawannya sendiri sempat nginget2 dulu waktu ditanya letak mushola dimana. Ckckckck…
-          Moviebox = nggak mau sering2

Selesai dengan moviebox, barulah pada mau ke maskam UGM. Habis itu lanjut ke KaliMilk. Suasananya ya…ngonolah…namanya juga kafe. Oiya, ada konflik kuga sih, tp aku malas bahasnya. Habis shalat maghrib, makan, minum, ngobrol, akhirnya pamitan pulang duluan. Yang lain masih ngobrol.

Waktu perjalan pulang, sakjane aku ki baru pertama pulang jam segitu lewat jalan deket rumah yang itu, SENDIRIAN pula. Menguji nyali nek iki! Jalan berbahaya sepanjang 500meter di tengah sawah, gelap gulita, sepiiiii…. Bukan takut setan, tp takut ada brandalan yang pernah kedapetan mau nyabet motor orang di jalan itu. Lha nek beneran dicegat gimana? Aku diam2 nyusun strategi sejak dari perempatan Tugu Jogja.

Rencana  :
1.      Kalau masih sempet mbalik, mbalik aja ke perkampungan terdekat.
2.      Nek ada yg nyegat, tancap gas aja. Ngeeennnggg…!!! Tabrak sisan.  
3.      Nek nggak ada kesempatan buat nabrak, ya ambil jarak, brenti. Ambil HP. Pura2 telpon POLISI. Knp nggak nelpon beneraran aja? Ya, apalagi kalau bukan karena pulsaku abis. Dialognya gini : “OK  pak POLISI, bapak udah di depan SD Pengkol. Ya udah tinggal ke selatan 100meter. Udah dikepung dan siap ditangkapkan? OK Pak, sekarang mereka ada di depan saya. Terima kasih, saya tunggu sebentar lagi.” Nah, kalau mereka brandalan dengan mental tempe pasti udah kalang kabut. Semoga deh…
4.       Pasang wajah nyeremin. Ekting nyeremin. Ketawa liar. Mata melotot. Biar dikira hantu. Ini rencana paling nggak masuk akal. Tapi toh ini cuma rencana.

Dalam hati aku berdoa. Semoga aku tak perlu mengeluarkan salah satu dari rencana itu. Dan Alhamdulillah memang diberi keselamatan. Sampai di rumah aku malah kepikiran, rencana tadi mungkin akibat kekhawatiran terlalu berlebihan yang akhirnya menimbulkan dampak tidak jelas. Hahaha…

Saat nulis ini aku jd ingat perasaan yg tadi. Senang, tertawa, bercanda, jengkel, kecewa. Sempat pula ingat potongan dialog dengan salah seorang teman waktu gelombolan kami sedang campur baur.
“Kita jd ngrasa serba salah. Nek kita ikut masuk ke lingkaran, kita ikutan ikhtilat. Tapi nek malah misah dan jalan di belakang gini, malah ngetoi banget nek kita beda.”
Aku setuju. Tapi apa dayaku. Aku belum sampai ke taraf yang bisa menegur orang lain dalam keadaan seperti itu. Bukankah nasihat sebaiknya disampaikan tidak di depan orang banyak dan sebaiknya di saat yang tepat?

Aku juga sempat teringat kalimat ini :
“Aku ki kadang masih bimbang. Kadang pengen masuk ke lingkaran, berbaur sama yang laen. Pengen ikut seneng-seneng. Tapi di saat yang sama kita itu termasuk ‘orang2 yang udah ngerti kalau itu salah’.“
Dan afwan jiddan bagi seorang teman yang berbicara begitu padaku dan waktu itu hanya kujawab :
“Iya, po?”
Afwan jiddan, bukannya meragukan kata anti. Tapi setiap aku bilang “Iya po?” itu artinya aku sedang berpikir, mencerna kalimat, mecoba memangsanya di kepala, dan mencocokannya dengan keadaanku. Kalau masalah orientasi masih sebatas keduniaan, ya kita masih sama2 belajar. Hehe…

Jadilah kesimpulan agenda hari ini adalah senang-senang. Ini kata ibu juga lho… hemn… semakin ingat pengalaman tadi aku jadi semakin sadar, ini semua orientasinya ke dunia. Trus kapan mau berubah? Yakin kah masih diberi kesempatan? Kita kan tahu apa yang akan terjadi besuk.

Dalam hati nyatanya aku merasa tidak tenang justru karena ketenangan yang kurasakan. Coba pahami. Kata temanku masalah hati memang sensitif. Hati, tidak bisa kalau tidak jujur.

Ya Rabb,.. kuadukan lemahnya dayaku, kurangnya siasatku, & kehinaanku di hadapan manusia. Wahai Yang Maha Penyayang di antara para penyayang, Engkaulah Rabb orang-orang lemah. Engkaulah Rabbku… Aku berlindung dengan cahayaMu yang menyinari segala kegelapan dan yang karenanya urusan dunia dan akhirat menjadi baik, agar Engkau tak menurunkan murkaMu padaku… tiada daya dan kekuatan kecuali dariMu.



Senin, 20 Juni 2011

Virus

Published by Iga Indah under on 17.42
huah...
ya Rabbi, apakah engkau memang begitu 'menyayangiku'?
sampai-sampai ada ujian sebelum ujian
akhir-akhir ini Kau memberiku semangat luar biasa buat berbenah
dan satu hal, kenapa 'ujian unik' ini justru datang di saat seperti ini
merah muka sekarang aku
aku tak tahu harus senang apa sedih
harus menjadikannya suply energi baru atau harus menjaga hati sebaik mungkin
masa pubertas
benar-benar deh...
jaga hati, jaga hati, jaga hati,... (^_^)9

A black point

Published by Iga Indah under on 18.53
Bagi sebagian orang mungkin ini tidak bearti apa-apa,
tp bagiku
ini adalah yang membuat 'segala perbedaan'
ada banyak makna di kepalaku
berkelebatanlah semua kenangan itu
terbilanglah sebuah kata kunci untuk sebuah 'perubahan'
bagiku,,...
Terima kasih, semuanya... :')

A circle

Published by Iga Indah under on 20.40

Sebenere aku iki sedang benar2 ingin diam saja, tp sudah kadung bilang mau nulis di blog. Jd lebih baik nulis sesuatu aja.


Judul entri ini "lingkaran". Tentu ada alasan knp judul itu kupilih.
Ya. Karena sejak masuk ke kampus cemara, aku punya banyak lingkaran yang diisi warna-warni bunga. Lingakaran pertamaku adalah lingkaran yang pertama kali berhasil mematik api keingintahuanku pada agama ini. Agama yang sebelumnya cuma sekedarnya saja. Lingkaran kedua dan seterusnya punya andil masing-masing untuk sesuatu yang disebut 'perubahan' dalam diriku. Lalu lingkaran demi lingkaran berubah, di-regroup. Dan akhirnya tibalah aku di lingkaran yang kesekian, di lingkaran indah ini.


Kalau ditanya gimana rasanya, maka jawabannya akan sulit buat dilukiskan. Aku belajar banyak hal di lingkaran ini. Ya. Banyak hal. Tentang Rabb ku, tentang agama ini, tentang manusia terkeren sepanjang masa, tentang kehidupan, tentang kedewasaan, tentang sahabat, tentang kisah-kisah,  tentang hati, ketulusan, kasih sayang, susah, senang, berat, ringan, tentang amanah, tentang ukhuwah, CINTA dan AIR MATA.
Seru sekali bukan? Aku sangat menikmatinya. Itu menyenangkan. Karena aku tahu kalau ini adalah salah satu bagian penting yang akan jadi sejarah penting di hidupku. Di lingkaran ini aku dapat supply energi yang luar biasa. Charger paling efektif buat jiwa yang sedang kering dan haus.


Ah, aku selalu merasa beruntung dan bersyukur sekali berkesempatan masuk di lingkaran ini. Bersanding dengan para pejuang, 'bunga-bunga' yang super tangguh. Aroma mereka membuatku selalu mengingatNya. Aku merasa imanku bertambah setiap dekat dengan bunga-bunga itu. Api semangat perjuangan berhasil kembali kukobarkan.


Tapi kini, aku merindukan api semangat itu lagi. Aku tak ingin menuntut. Bukankah lingkaran itu bisa berputar? Kadang ada di atas tp kadang kita di bawah. Berputar seiring waktu. Selaras dengan detik waktu yang terus menuntut maju dan tak mau mundur sekalipun.


Kupikir lingkaran itu kini sedang ada dalam badai. Tiap kuntum 'bunga' mungkin mungkin punya masalah dalam menjaga dirinya agar tetap berseri, kuat tertancap, tak tebawa angin, tegar, segar, dan tak layu. Masing-masingnya punya metode sendiri-sendiri untuk menjaga diri.  Tp satu hal yang ingin sekali kupertahankan. Tak ingin aku ada satu pun kuntum yang keluar dari lingkaran itu. Karena aku tahu ujian ukhuwah begitu sulit. Kalimat cinta yang diteriakkan tak lagi terdengar. Harapan tak terhiasi rasa optimis. Krisis kepercayaan pun meraja. Tapi aku yakin, akan tetap ada sayap malaikat di atas lingkaran itu. Karena Allah tak akan biarkan kami hidup tenang tanpa ujian. Karena ujian itu adalah salah satu bentuk kasih sayangNya pada lingkaran kami.


“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ”Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”. (Al-Ankabut : 2-3)


Aku tahu, lingkran ini ada untuk suatu rencana misterius yang disiapkan olehNya.


‎"dalam serpih-serpih cahaya
dan gerak-gerik halus benda-benda
tersimpan rahasia, mengapa kita ini ada"
-Andrea Hirata-


Persaudaraan yang indah yang terbentuk dari sebuah lingkaran kecil. Yang pasti tak akan kulupa. Satu kalimat dariku buat kalian sist...


"Aku punya CINTA dan HARAP yang teriring doa setia, karena itu aku PERCAYA. Love U all sist..."

pergi

Published by Iga Indah under on 19.17
aku ingin pergi
pergi dari rumah
pergi dari desa, dari kota jogja tercinta
pergi merantau ke luar sana

aku mau jadi dewasa
aku sudah bosan jadi anak kecil
sudah bosan menyandang nama remaja labil lagi
sudah bosan disibukkan dengan pikiran dan angan-angan
sudah bosan bermimpi tapi tak kunjung dapat kesempatan buat merealisasikan
aku ingin pergi ke dunia luas
bertemu dengan banyak orang
belajar tentang kehidupan
menemukan teman sebagai ganti keluarga
walaupun itu artinya aku harus meninggalkan tempat ternyaman sedunia,
kampus cemara tercinta

mereka tak tahu seperti apa aku di luar sana
aku berjuang semampuku
sekeras yang aku bisa
belajar banyak hal
melakukan banyak hal
yang aku suka maupun yang tak ku suka
berusaha sekuat yang aku bisa
menjadi apa yang teman2ku presepsikan terhadapku
semua kulakukan dengan sepenuh hati
tapi mereka tak tahu diriku yang sekarang seperti apa

adakah mereka tahu? betapa tersakitinya aku
adakah mereka tahu? kalau kini aku tak seperti dulu lagi
adakah mereka tahu? kalau air mata ini menetes tiap waktu
adakah mereka tahu? kalau aku ingin belajar banyak hal tentang kehidupan
adakah mereka tahu? kalau aku ingin mencari keinginanku
adakah mereka tahu? kalau tak ada keraguan sedikitpun pada apa yang kupegang, pada agama ini
adakah mereka tahu? kalau aku sudah bosan diperlakukan begini
dan,
adakah mereka tahu? kalau aku hanya ingin berbenah
berbenah...
saat ini hanya itu yang bisa kulakuakan
ayah...ibu...
maaf

memang

Published by Iga Indah under on 21.26
MEMANG

saya sedang belajar,
banyak hal memang,
butuh waktu memang, 
banyak yg perlu diperbaiki memang,
pastinya sangat sulit memang,
perlu sarana dan prasarana buat menujang itu semua memang,
sy sendiri tidak tau, akan lama atau singkat memang,
akan menemui banyak kesulitan dan ujian memang,
akan sering tejatuh dan terluka memang,
akan sering futur dan down memang,
akan sering lelah, letih, capek, & sakit memang,
butuh dorongan agar penyakit linglung tidak kambuh memang,
butuh kalian yg bila aku dekat denganya aku merasa imanku bertambah memang,
butuh kalian yg wajahnya mengingatkanku akan surga memang, 
butuh nasihat dr orang yg telah lebih dulu tahu memang,
butuh banyaaaakkk sekali hal2, orang2, saudari2, teman2, sahabat2, dan perubahan2 dalam diri sendiri,
memang,
tapi,
satu hal yang pasti,
Allah selalu bersamaku